KEBUN BINATANG
Karya : Sitor Sitomorang
Karya : Sitor Sitomorang
Kembang, boneka
dan kehidupan
Kembang, boneka dan kerinduan
Si adik ini ingin teman
Si anak ini punya ketakutan
Hari-hari kemarin
Punya keinginan
Berumah ufuk, ombak menggulung
Hari-hari kandungan
Tolak keisengan
Ramai-ramai di kebun binatang
Kembang, boneka dan kehidupan
Kembang dan kerinduan
Si adik ini ingin teman
Boneka ini punya kesayuan
Hari-hari datang
Hari kembang di kebun binatang
Hari bersenang
Pecah dalam balonan
Kembang, boneka dan kehidupan
Kembang dan kerinduan
Si adik ini ingin teman, Boneka ini punya kesayuan.
Kembang, boneka dan kerinduan
Si adik ini ingin teman
Si anak ini punya ketakutan
Hari-hari kemarin
Punya keinginan
Berumah ufuk, ombak menggulung
Hari-hari kandungan
Tolak keisengan
Ramai-ramai di kebun binatang
Kembang, boneka dan kehidupan
Kembang dan kerinduan
Si adik ini ingin teman
Boneka ini punya kesayuan
Hari-hari datang
Hari kembang di kebun binatang
Hari bersenang
Pecah dalam balonan
Kembang, boneka dan kehidupan
Kembang dan kerinduan
Si adik ini ingin teman, Boneka ini punya kesayuan.
KALIURANG(TENGAH
HARI)
Karya : Sitor Sitomorang
Karya : Sitor Sitomorang
Kembali kita berhadapan
Dalam relung sepi ini
Dari seberang lembah mati
Bibirmu berkata lagi
Napasmu mengelus jiwaku
Tersingkap kabut Dataran
Dan kutahu di tepi selatan
Laut ‘manggil aku berlayar dari sini
Tungguhlah aku akan datang
Biar kelam datang kembali
Dengan angin malam aku bertolak
Ke negeri, kabut tidak mengabur pandang
Mati, berarti kita akan bersatu lagi.
LERENG MERAPI
Karya : Sitor Sitomorang
Karya : Sitor Sitomorang
Kutahu sudah, sebelum pergi dari sini
Aku akan rindu balik pada semua ini
Sunyi yang kutakuti sekarang
Rona lereng gunung menguap
Pada cerita cemara berdesir
Sedu cinta penyair
Rindu pada elusan mimpi
Pencipta candi Prambanan
Mengalun kemari dari dataran ….
Dan sekarang aku mengerti
Juga di sunyi gunung
Jauh dari ombak menggulung
Dalam hati manusia sendiri
Ombak lautan rindu
Semakin nyaring menderu …
SURAT KERTAS HIJAU
Karya : Sitor Sitomorang
Karya : Sitor Sitomorang
Segala kendaraannya tersaji hijau muda
Melayang di lembaran surat musim bunga
Berita dari jauh
Sebelum kapal angkat sauh
Segala kemontokan menonjol di kata-kata
Menepis dalam kelakar sonder dusta
Harum anak dara
mengimbau dari seberang benua
Mari, Dik, tak lama hidup ini
Semusim dan semusim lagi
Burung pun berpulangan
Mari, Dik, kekal bisa semua ini
Peluk goreskan di tempat ini, Sebelum kapal dirapatkan.
DUKA
Karya : Sitor Sitomorang
Manakah lebih sedih?
Nenek terhuyung tersenyum/jelma sepi abadi
Takkan tertukar rupa
Atau petualang muda sendiri?
Gapaian rindu tersia-sia
Tak sanggup hidup rukun
Antara anak minta ditayang
Sekali
akan tiba juga
Takkan ada gerbang membuka
Hanya jalan merentang ditayang
Sekali akan tiba juga
Takkan ada gerbang membuka
Sungguh sayang cinta sia-sia
Manakah
lebih sedih?
Nenek terhuyung tersenyum
Atau petualang mati muda
Mengumur muda telah dinujum
WAJAH TAK BERNAMA
Karya : Sitor Sitomorang
BANGUN
Tidurnya: kejalangan perempuan
Bangunnya: kesepian disugukan,
Racun menyebar di tubuh,
Tak ada yang mengeluh.
Merangkak ia ke jendela,
Memandang pagi seperti biasa
Ia lihat pohon-pohon berbuah,
Dunia yang makin indah.
Hatinya makin rawan.
Rindunya sampai ke awan.
Balik di dada perempuan,
Sorga lain ia impikan.
GAMBAR KOTA DULU
Karya : Sitor Sitomorang
Depan jendela gadis mengurai rambut
Ditimpa sinar pagi menyepuh kota
Sungai di bawah memantul sinar bulan muda
Di mata selamanya yang masih kusut
Di cermin tertera kejadian dalam
Nafsu remaja yang berakhir di malam
Menyatu dengan dendang pagi
Hari baru yang menyusukan hati
Cinta hidup yang tidak kepalang
Di dadanya yang tak tahu diri telanjang
Meraih diriku yang tak tahu pulang
Sebelum semua pintu terpalang
Adakah malammu sudah berhenti risau
Mencari pacar
semenjak semua telah lalu
kenangan jad pudar?
Tapi kau bukan merpati ̶ kutahu
Yang bisa tenteram merindu
dalam sangkar
Akupun nanar.
JALAN BATU KE DANAU
Karya : Sitor Sitomorang
Lewat
Tarutung dan Siantar
Ada dua
jalan baru
Menuju danau
Aku tahu
Lewat
Tarutung dan Siantar
Ada dua
jalan batu
Menuju kau
Aku tahu
Dari
Taruntung dan Siantar
Ada dua
jalan rantau
Ke
pangkuanmu
Aku lalu
Dari Taruntung dan Siantar
Dari Taruntung dan Siantar
Ada dua
jalan rindu
Teringat
kau
Aku tak
tahu
PARIS-LA-NUIT
Karya : Sitor Sitomorang
Malaikatku,
malaikatku
Turun
menyelimuti senja
kebosanan
Menggeliat
dalam beribu lampu
lusuh
Duka yang
melapuk pada dinding hati
menjadi
ragi
anggur
nafsu
hingga
darah bening
dan berlagu
Malaikatku,
malaikatku
Dari asap
pembiusan iseng
Menguap ia
di malam tipis
Melepas
dari kelabu rumah-rumah kota mati
musim rontok
Warna musim
mengalun dalam angin jatuh
berbisik:
Anak dulu sudah jadi gadis.
Angin,
menyapu daun serta meluluh
bayang
ingin jalan,
Lincah
menggigil dalam tangis.
Kabut iseng
kotaku
Terbalut
dalam duka perawan keputihan salju,
kala
bangun: hanya malaikat tak kenal dosa
Malaikatku
terbalut
tilam sutera malam dosa
pada hati
binatang kota belantara.
Harimau
piaraan di buah dada,
isengku
mendendam pada genitmu,
Menatap
dalam hutan malam candu
Khayal
serigala ingin yang kulepas
berbiak dan
meraung dalam mulut godamu
Memuntahkan
benih keisengan baru
pada mulut
yang mengutuk puas.
Tawa
jahanam di buas bibirnya menyelinap
Malaikatku
Lalu jejak
di ambang malam berderap
Tanda hari
baru bangkit: telanjang subur
Dari jurang
pelaminan kubur
Cahaya dari
awan kelesuan mati:
di wajah
paginya rambut terurai kubelai
Lalu bangun
di tengah hari perutnya
Memuntahkan
dan menjilat lagi benih keisenganku
SAJAK
Karya : Sitor Sitomorang
Karya : Sitor Sitomorang
Kenapa takkan percaya pada Tuhan?
Sama sedihnya dengan sajak
Bersama kita ia tak berpegangan
Kecuali dalam duka tamau beranjak
Bila kita mati
Iapun didera sepi
Penyair dalam diri meruntas rantai
Tahu sekali lepas ‘kan turut hancur
Pisau dtikam ke hulu mati
Bukan untuk membela diri ̶ telah lulur.
05.40
Share:
About
0 komentar: