Selasa, 31 Mei 2016

Frasa, Verba, Konjungsi

Posted by Dahlia Andika  |  1 comment




D
I
S
U
S
U
N
Oleh : DAHLIA ANDIKA
Kelas : X. MIA2

SMAN 1 UNGGULAN INDRALAYA UTARA
TAHUN PELAJARAN 2014/2015
FRASA

1.             Pengertian Frasa
Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif, misalnya : bayi sehat, pisang goreng, sangat enak, sudah lama sekali, dan dewan perwakilan rakyat. Klausa adalah kelompok kata yang sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat dan berpotensi menjadi kalimat, misalnya : mereka bicara, dosen mengajar, mereka bertanya, dan mereka tidak puas.
2.             Jenis – jenis Frasa
                        Frasa dapat dibeda-bedakan berdasarkan kelas katanya, yaitu :
A.            Frasa verbal
Frasa verbal adalah kelompok kata yang dibentuk dengan kata kerja, terdiri atas 3 macam, yaitu :
1.        Frasa verbal modifikatif (pewatas) ; terdiri atas :
a.         Pewatas belakang misalnya :
1)        Ia bekerja keras sepanjang hari
2)        Orang itu berjalan cepat setiap pagi.
b.        Pewatas depan, misalnya :
1)        Mereka dapat mengajukan kredit di BRI
2)        Mereka akan mendengarkan lagu kebangsaan.
2.        Frasa verbal koordinatif adalah dua verba yang disatukan dengan kata penghubung dan atau atau.
a.         Mereka menangis dan meratapi nasibnya.
b.        Kita pergi atau menunggu ayah.
3.        Frasa verbal apositif yaitu sebagai keterangan yang ditambahkan atau diselipkan, misalnya :
a.         Pulogadung, tempat tinggalnya dulu, kini menjadi terminal modern.
b.        Usaha pak ali, berdagang kain, kini menjadi grosir.
B.            Frasa Adjektival
Frasa adjektival adalah kelompok kat yang dibentuk dengan kata sifat atau keadaan sebagai inti (diterangkan) dengan menambahkan kata lain yang berfungsi menerangkan, seperti : agak,dapat, harus, kurang, lebih, paling, dan sangat.
Frasa adjektival dibedakan atas 3 jenis, yaitu :
1.        Frasa adjektival modifikasi (membatasi), misalnya : cantik sekali, indah nian, hebat benar.
2.        Frasa adjektival koordinatif (menggabungkan), misalnya : tegap kekar, aman tentram, makmur dan sejahtera, aman sentausa.
3.        Frasa adjektival apositif (memberikan keterangan tambahan, misalnya : Bima toko ksatria, gagah perkasa, dan suka menolong kaum yang lemah.
C.            Frasa Nominal
Frasa nominal adalah kelompok kata benda yang dibentuk dengan memperluas sebuah kata benda ke kiri dan kekanan; ke kiri menggolongkan, misalnya : dua buah buku, seorang teman, beberapa butir telur, ke kanan sesudah kata (inti) berfungsi membatasi, misalnya : buku dua buah, teman seorang, telur beberapa butir.
Frasa nominal dibedakan atas 3 macam, yaitu :
1.        Frasa nominal modikatif (mewarisi), misalnya : rumah mungil, hari minggu, buku dua buah, pemuda kampus, dan bulan pertama
.
2.        Frasa nominal koordinatif (tidak saling menerangkan), misalnya : hak dan kewajiban, sandang pangan, dunia akhirat.
3.        Frasa nominal apositif, misalnya : Burung cendrawasih, burung langka dari Irian itu, sudah hampir punah.
D.           Frasa adverbial
Frasa adverbial adalah kelompok kata yang dibentuk dengan keterangan kata sifat. Frasa ini bersifat modikatif (mewatasi)
E.            Frasa Pronominal
Frasa Pronominal adalah frasa yang dibentuk dengan kata ganti. Frasa ini terdiri atas 3 jenis, yaitu :
1.        Frasa Pronominal Modikatif
2.        Frasa Nominal Koordinatif
3.        Frasa Nominal Apositif.
F.            Frasa Numeralia
Frasa Numerali adalah kelompok kata yang dibentuk dengan kata bilangan. Frasa jenis ini terdiri atas dua jenis, yaitu :
1.        Modifikasi
2.        Koordinasi
G.           Frasa interogative koordinatif
Frasa interogative koordinatif adalah frasa yang berintikan pada kata tanya. Misalnya :
1.         Siapa yang memberikan tugas ini?
Jawaban siapa merupakan ciri subkjek kalimat.
2.         Mengapa kamu datang terlambat?
Jawaban mengapa merupakan penanda predikat.
H.           Frasa Demonstrative Koordinatif
Frasa ini dibentuk dengan dua kata yang tidak saling menerangkan. Contoh :
1.         Saya bekerja di sana atau sini sama saja.
2.         Saya memakai baju ini atau itu tidak masalah.
I.              Frasa Proposisional Koordinatif
Frasa ini dibentuk dengan kata depan dan tidak saling merengkan. Contoh :
1.         Perjalanan kami dari dan ke Bandung memerlukan waktu enam jam.
2.         Kopersi dari, oleh dan untuk anggota
.


NOMINA


1. Batasan dan Ciri Nomina
Nomina, yang sering disebut kata benda, dapat dilihat dari tiga segi, yakni segi semantic, segi sintaksis, dan segi bentuk. Dari segi semnatis, kita dapat mengatakan bahwa nomina adalah kata yang mengacu pada manusia, binatang, benda , konsep atau pengertian (Alwi, 1998 ; 213). Dengan demikian kata seperti guru, kucing, meja, dan kebangsaan adalah nomina. Dari segi sintaksisnya nomina mempunyai cirri-ciri tertentu; 1) dalam kalimat yang predikatnya verba, nomina cenderung mendudukinfungsi subjek, objek, atau pelengkap. Kata pemerintah dan perkembangan dalam kalimat pemerintah akan menetapkan perkembangan adalah nomina. Kata pekerjaa dalam kalimat Ayah mencarikan saya pekerjaan adalah nomina; 2) nomina tidak dapat diingkarkan dengan kata tidak. Kata pengingkarnya adalah bukan.; 3) nomina umumnya dapat diikuti oleh adjektiva, baik secara langsung maupun dengan diantarai oleh kata yang. Dengan demikian, buku dan rumah adalah nomina karena dapat bergabung menjadi buku baru dan rumah mewah atau buku yang baru dan rumah yang mewah.
Selain hal di atas, cirri nomina juga dapat dilihat melelui:
1.1 Ciri Morfologis
            Dari sisi morfologis, kata benda (nomina) dapat diketahui melelui afiks seperti:

1.1.1 Prefiks
Prefiks yang menunjukkan benda adalah prefiks pe(r), kata-kat yang dibubuhi oleh awalan pe(r) dan pe(n) adalah kata benda/nomina.
Contoh  per- + buruh      perburuh
                                    KK/V       KB/N
            Perubahan artinya menjadi orang yang pekerjaannya berburu.
            Contoh pen-+didik        pendidik
1.1.2 Sufikks
            Contoh 
            Makan + -an          makanan
            Tulis + -an             tulisan
            Piker + -an             pikiran
1.1.3 Konfiks
1.1.3.1 Konfiks pe-an
            Pem-an + buat         pembuatan            
            Pe-an + labuh           pelebuhan
            Peny-an + sapu            penyapuan
            Peng-an + alam            pengalaman
1.1.3.2 Konfiks ke-an
            Contohnya
            Ke-an + nyata             kenyataan
            Ke-an + jelas               kejelasan

1.2 Ciri Sintaksis
            Kata benda/nomina dapat diketahui dalam sintaksis, yaitu: 1) nomina pada umumnya menduduki posisis/fungsi subjek atau objek. Dalam kalimat nomina juga dapat menduduki fungsi predikat.
Contohnya:

(1)   Rumah itu sudah di jual
      S

Keterangan:
            Subjek kalimat (1) di atas adalah rumah itu. Dengan demikian rumah itu menduduki kategori nominal.
(2)   Ibunya membeli mobil
      O

Keterangan:
Objek kalimat (2) di atas adalah mobil. Dengan demikian mobil adalah nomina. Selain itu nomina adalah kat-kata yang dapat diperluas dengan yang + kata sifat.

1.3 Ciri Semantik
            Kata benda dibatasi oleh karakteristiknya sendiri. Misalnya kuda. Kata kuda dibatasi oleh cirri-ciri bentuk, warna, karakter, seperti: bentuknya besar, warnamya putih, hitam, coklat dan biru tidak ada. Karakternya: bias lari cepat, makan rumput.

2. Nomina dari Segi Bentuknya
            Dilihat dari segi bentuk morfologinya, nomina terdiri atas dua macam, yakni 1) nomina yang berbentuk kata dasar dan 2) nomina tuturan. Penurunan nomina ini dilakukan dengan (1) afiksasi, (2) perulangan, atau (3) Pemajemukan.

2.1 Nomina Dasar
            Nomina dasar adalah nomina yang hanya terdiri atas satu morfem. Berikut adalah beberapa contoh nomina dasar yang dibagi menjadi nomina dasar umum dan nomina dasar khusus.

2.2 Nomina Turunan
            Nomina dapat diturunkan melalui afiksasi, perulangan, atau pemajemukan. Afiksasi nomina adalah suatu proses pembentukan nomina dengan menambahkan afiks tertentu pada kata dasar. Satu hal yang perlu diperhatiakan dalam penurunan nomina dengan afiksasi adalah bahwa nomina tersebut memiliki sumber penurunan dan sumber ini belum tentu berupa kata dasar.


KONJUNGSI

I. Konjungsi (Kata Sambung)
Konjungsi adalah kata tugas yang menghubungkan dua klausa atau lebih.
Konjungsi disebut juga dengan istilah kata sambung, kata hubung, dan kata penghubung.

Ket: Klausa dalam
tata bahasa, adalah sekumpulan kata yang terdiri dari subjek dan predikat Bahasa bersubyek nol. Sebuah kalimat paling sederhana terdiri dari satu klausa sedangkan kalimat yang lebih rumit dapat terdiri dari beberapa klausa dan satu klausa dapat juga terdiri dari beberapa klausa. walau dalam beberapa bahasa dan beberapa jenis klausa, subjek dari klausa mungkin tidak tampak secara eksplisit dan hal ini khususnya umum dalam
Klausa sering kali di kontraskan dengan frasa. Sebuah kumpulan kata dikatakan sebagai klausa apabila ia mempunyai Kata kerja finit dan subyeknya sementara sebuah frasa berisi kata kerja finit namun tanpa subyeknya Frasa kata kerja, atau tidak berisi kata kerja. Sebagai contoh kalimat "Aku tidak tahu kalau kau membuat lukisan itu", "kau membuat lukisan itu" adalah klausa dan sebuah kalimat benuh sedangkan "lukisan itu" dan "membuat lukisan itu" adalah sebuah frasa. Ahli Bahasa masa kini tidak membuat perbedaan seperti itu, mereka menerima ide akan klausa non-finit, klausa yang di atur disekitar kata kerja non-finit.

Jenis-jenis konjungsi:
1. Konjungsi antarklausa, dibagi menjadi 3 jenis yaitu:
a. Konjungsi koordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua klausa atau lebih yang memiliki status sintaksis yang sama. ( =konjungsi setara )
Macam-macam:
- dan (menyatakan penambahan)
- tetapi ( menyatakan perlawanan)
- atau ( menyatakan pemilihan )


b. Konjungsi subordinatif yaitu konjungsi yang menghubungkan dua klausa atau lebih yang memiliki status sintaksis yang tidak sama. (=konjungsi bertingkat )
Macam-macamnya:
- sesudah, setelah, sebelum, sehabis, sejak, selesai, ketika, tatkala, sewaktu, sementara, sambil, seraya, selagi, selama, hingga, sampai (menyatakan waktu).
- Jika, kalau, jikalau, asal(kan), bila, manakala ( menyatakan syarat ).
- Andaikan, seandainya, andaikata, umpamanya, sekiranya ( menyatakan pengandaian ).
- agar, supaya, biar ( menyatakan tujuan )
- biarpun, meskipun, sekalipun, walaupun, sungguhpun, kendatipun ( menyatakan konsesif ).
- seakan-akan, seolah-olah, sebagaimana, seperti, sebagai, laksana ( menyatakan pemiripan ).
- sebab, karena, oleh karena ( menyatakan sebab )
- hingga, sehingga, sampai(-sampai), maka(nya) ( menyatakan akibat ).
- bahwa ( menyatakan penjelasan ).

c. Konjungsi korelatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua kata, frasa, atau klausa dan kedua unsure itu memiliki status sintaksis yang sama
.
Konjungsi korelatif terdiri atas dua bagian yang dipisahkan oleh salah satu kata, frasa, atau klausa yang dihubungkan.

Macam-macamnya:
- baik … maupun …
- tidak hanya …, tetapi ( …) juga …
- bukan hanya …, melainkan …
- (se)demikian (rupa) … sehingga…
- apa(kah) … atau …
- entah … entah …
- jangankan …, …pun …

Perhatikan contoh berikut!
1. Baik Andi maupun Toni ingin kursus piano.
2. Tidak hanya kehilangan rumah, tetapi ia juga kehilangan seluruh keluarganya.
3. Kakaknya belajar demikian tekun, sehingga ia dapat peringkat pertama.
4. Entah ditanggapi entah tidak, ia akan mengajukan usul itu.
5. Jangankan teriak, berbicara pun suaranya tidak bias keluar.


2. Konjungsi Antarkalimat yaitu konjungsi yang menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lain.
Oleh karena itu, konjungsi ini selalu memulai satu kalimat yang baru dan huruf pertamanya ditulis dengan huruf capital.

Macam-macamnya:
- biarpun demikian/begitu, sekalipun demikian/begitu, sungguhpun demikian/begitu, walaupun demikian/begitu, meskipun demikian/begitu ( menyatakan kesediaan untuk melakukan sesuatu )
- kemudian, sesudah itu, setelah itu, selanjutnya, tambahan pula, lagi pula, selain itu ( menyatakan adanya hal, peristiwa, atau keadaan lain di luar hal yang telah dinyatakan sebelumnya ).
- sebaliknya ( menyatakan kebalikan dari pernyataan sebelumnya ).
- sesungguhnya, bahwasannya ( menyatakan keadaan yang sebenarnaya ).
- malahan, bahkan ( menyatakan menguatkan keadaan yang dinyatakan sebelumnya).
- akan tetapi, namun, kecuali itu ( menyatakan pertentangan dengan keadaan sebelumnya ).
- dengan demikian ( menyatakan konsekuensi )
- oleh karena itu, oleh sebab itu ( menyatakan akibat )
- sebelum itu ( menyatakan kejadian yang mendahului hal yang dinyatakan sebelumnya )

3. Konjungsi Antarparagraf yaitu konjungsi yang digunakan untuk menghubungkan paragraf tempat konjungsi itu dipakai dengan paragraf sebelumnya.
Konjungsi antarparagraf pada umumnya terletak pada awal paragraf.
Macam-macamnya:
- adapun
- akan hal
- mengenal
- dalam pada itu

Selain keempat konjungsi antarparagraf tersebut terdapat juga konjungsi antarparagraf berikut:
- alkisah
- arkian
- sebermula
- syahdan



II. Konjungsi (Kata Hubung)
Kata hubung atau konjungsi adalah kata yang berfungsi menghubungkan
dua kata atau dua kalimat.
Macam-macam konjungsi:
a). Konjungsi penambahan, misalnya: dan, dan lagi, tambahan lagi, lagi
pula.
b). Konjungsi urutan, misalnya: lalu, lantas, kemudian, setelah itu.
c). Konjungsi pilihan, misalnya: atau
d). Konjungsi perlawanan, misalnya: tetapi, sedangkan, namun, sebaliknya,
padahal.
e). Konjungsi menyatakan waktu, misalnya: ketika, sejak, saat, dan
lain-lain
f). Konjungsi sebab-akibat, misalnya: sebab, karena, karena itu, akibatnya
dan lain-lain
g). Konjungsi persyaratan, misalnya: asalkan, jikalau, kalau, dan lain-lain
h). Konjungsi pengandaian, misalnya: andaikata, andaikan, seandainya,
seumpamanya.
i). Konjungsi harapan/tujuan, misalnya: agar, supaya, hingga.
180 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Semenjana Kelas X
j). Konjungsi perluasan, misalnya: yang
k). Konjungsi pengantar objek, misalnya: bahwa
l). Konjungsi penegasan, misalnya: bahkan dan malahan
m). Konjungsi pengantar wacana, misalnya: adapun, maka, jadi
.


VERBA

A. VERBA
Verba adalah verba yang terbentuk melalui proses penggabungan satu kata dengan kata yang lain. Dalam verba majemuk, penjejeran dua kata atau lebih itu menumbuhkan makna yang secara langsung masih bisa ditelusuri dari makna masing-masing kata yang tergabung.
Idiom juga merupakan perpaduan dua kata atau lebih, tetapi makna dari makna-makna masing-masing kata yang tergabung. Kata naik misalnya, dapat dipadukan dengan kata darah sehingga menjadi naik darah.
Kalau dipakai formula untuk membedakan idiom dengan verba majemuk, maka perbedaan itu adalah:
Idiom : A + B menimbulkan makna C
Verba majemuk : A + B menimbulkan makna AB
Salah satu ciri lain dari verba majemuk adalah ahwa urutan komponennya seolah-olah telah menjadi satu sehingga tidak dapat dipertukarkan tempatnya. Karena keeratan hubungannya verba majemuk juga tidak dapat dipisahkan oleh kata lain. Bentuk *temu wicara, *siap guna tempur, dan *tatap dengan muka.
Verba majemuk juga dibedakan dari idiom panjang-pendeknya bentuk. Biasanya verba majemuk pendek dan umumnya terbatas pada dua kata.
Verba majemuk harus pula dibedakan dari frasa verba. Frasa verba juga terdiri dari dua kata atau lebih. Berdasarkan bentuk morfologisnya, verba majemuk terbagiatas (1) verba majemuk dasar, (2) verba majemuk berafiks, dan (3) verba majemuk berulang. Berdasarkan komponen-komponennya, verba majemuk terbagi atas (i) verba majemuk bertingkat, dan (ii) verba majemuk setara. Verba majemuk bertingkat adalah verba majemuk yang salah satu komponennya merupakan inti. Hubungan itu dapat dilihat jelas apabila apabila verba majemuk itu diparafrasekan. Contohnya:
jumpa pers = jumpa dengan pers
haus kekuasaan = haus akan kekuasaan
verba majemuk setara ialah verba majemuk yang kedua komponennya merupakan inti. Hubungan itu dapat dilihat pada parafrase sebagai berikut:
timbul tenggelam = timbul dan tenggelam
jatuh bangun = jatuh dan bangun
Jelaslah bahwa bukan satu komponen yang menjadi inti, tetapi kedua-duany. Dari parafrase tersebut terlihat bahwa hubungan kedua komponen bersifat koordinatif.
1. Verba Majeuk Dasar
Yang dimaksud dengan verba majemuk dasar ialah verba majemukyang tidak verafiks dan tidak mengandung komponen berulang, serta dapat berdiri sendiri dalam frase, klausa, atau kalimat. Ada tiga pola verba majemuk dasar yang paling umum yaitu (a) komponen pertama berupa verba dasar dan komponen kedua berupa nomina dasar, seperti mabuk laut; (b) komponen pertama berupa adjectiva dan komponen kedua berupa verba, sepert kurang makan; (c) kedua komponen berupa verba dasar seperti hancur lebur.
2. Verba Majemuk Berafiks
Verba majemuk berafiks ialah verba majemuk yang mengandung afiks tertentu. Verba majemuk berafiks dapat dibagi menjadi tiga kelomok.
a. Verba majemuk berafiks yang pangkalnya berupa bentuk majemuk yang tidak dapat berdiri sendiri dalam kalimat disebut verba majemuk terikat.
b. Verba majemuk berafiks yang pangkalnya berupa bentuk majemuk yang dapat berdiri sendiri disebut verba majemuk bebas.
c. Verba majemuk berafiks yang komponennya telah berafiks lebih dahulu.
3. Verba majemuk berulang
Verba majemuk dalam bahasa Indonesia dapat direduplikasi jika kemajemukannya bertingkat dan jika intinya adalah bentuk verba yang dapat direduplikasikan pula. Hanya komponen verba yang mengalami reduplikasikan pula.

Contoh:
Naik pangkat naik-naik pangkat
Pulang kampung pulang-pulang kampung
Dari contoh diatas tampaklah bahwa hanya komponen verba yang mengalami reduplikasi.

B. HUBUNGAN KETRANSITIFAN DENGAN AFIKSASI
Ada keterkaitan antara ketransitifan dengan afiksasi. Berikut ini didaftarkan kaidah mengenai hubungan tersebut.
1. Verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiksasi dapat bersifat transitif dan dapat pula taktransitif. Contoh: makan, minum, mandi, tidur.
2. Verba yang bersifat ber- bersifat tak transitif. Contoh: berjalan, berjemur, berdasarkan, bermandikan.
3. Verba yang berafiks meng- tanpa sufiks dapat bersifat tarnsitif dan dapat pula taktransitif. Contoh: membeli, membawa, mendarat, merakyat.
4. Semua verba yang bersufiks –i, kecuali verba tertentu sepertimenyerupai dan memadai, bersifat transitif. Contoh: merestui, memukuli, menugasi, mendekati.
5. Semua verba yang bersufiks –kan dan berprefiks meng-, kecuali merupakan, selalu bersifat transitif. Contoh: mengerjakan, membelikan, menyerahkan.
6. Jika bentuk [meng-+ Dasar] membentuk verba taktransitif, makan pasangannya dengan sufiks –kan dan –i merupakan verba ekatransitif.
7. Jika bentuk [meng-+ Dasar] membentuk verba ekatransitif, makan pasangannya dengan sufiks –kan sering tergolong verba dwitransitif.
8. Jikan bentuk [meng-+ Dasar] adalah verba ekatransitif, maka pasangannya dengan akhiran –in umumnya tetap ekatransitif.

C. FRASA VERBAL DAN FUNGSINYA
Verba dapat diperluas dengan menambahkan unsur-unsur tertentu, tetapi hasil perluasan ini masih tetap ada pada tataran sintaksis yang sama.
1. Pengertian Farasa Verbal
Farasa verbal ialah satuan bahasa yang terbentuk dari dua kata atau lebih dengan verba sebagai intinya tetapi bentuk ini tidak merupakan klausa. Perlu ditegaskan bahwa unsur pengisi subjek, objek, dan pelengkap tidak termasuk dalam frasa verbal.
a. Kesehatannya sudah membaik.
b. Pesawat itu akan mendarat.
c. Anak-anak itu tidak harus pergi sekarang.
Kontruksi yang dicetak miring adalah frasa verbal.
2. Jenis-jenis farasa verbal
Dilihat dari konstruksinya, frasa verbal terdiri atas verba inti dan kata lain yang bertindak sebagai penambah arti verba tersebut.
a. Frasa Endosentrik Atribut
Frasa verbal yang endosentrik atribut terdiri atas inti verba dan pewatas yang ditempatkan dimuka atau belakang verba inti. Yang di muka dinamakan pewatas depan dan yang dibelakang dinamakan pewatas belakang.
b. Frasa Endosentrik Koordinatif
Wujud frasa endosentrik koordinatif sangatlah sederhana, yakni dua verba yang digabungkan dengan memakai kata penghubung dan atau atau. Tentu saja, sebagai verba bentuk itu juga dapat didahului atau diikuti oleh pewatas depan dan pewatas belakang.

D. FUNGSI VERBA DAN FRASA VERBAL
Jika ditinjau dari segi fungsinya, verba (maupun frasa verbal) terutama menduduki fungsi predikat. Walaupun demikian verba dapat pula menduduki fungsi lain seperti subjek, objek, dan keterangan.
1. Verba dan Frasa Verbal sebagai Predikat
Contoh:
a. kaca jendela itu pecah.
b. Orang tuanya bertani.
c. Kedua sahabat itu berpeluk-pelukan
2. Verba dan Frasa Verbal sebagai Subjek
Contoh:
a. Membaca telah memperluasa wawasan fikirannya.
b. Bersenam setiap pagi membuat orang itu terus sehat.
3. Verba dan Frasa Verbal sebagai Objek
Contoh:
a. Dia sedang mengajarkan menari pada adik saya.
b. Mereka menekuni membaca Quran pada pagi hari.
4. Verba dan Frasa Verbal sebagai Pelengkap
Contoh:
a. Dia sudah berhenti merokok.
b. Mertuanya merasa tidak bersalah.
5. Verba dan Frasa Verbal sebagai Keterangan
Contoh:
a. Ibu sudah pergi berbelanja.
b. Paman datang berkunjung minggu yang lalu.
6. Verba yang Bersifat Atributif
Verba (bukan frasa) juga bersifat atributif, yaitu memberikan keterangan tambahan pada nomina. Dengan demikian sifat itu ada pada tataran frasa.
a. Anjing tidur tak boleh diganggu.
b. Emosi tak terkendali sangat merugikan.
7. Verba yang Bersifat Apositif
Verba dan perluasannya dapat juga bersifat apositif, yaitu sebagai keterangan yang ditambhakan atau diselipkan.
a. Pekerjaannya, mengajar, sudah ditanggalkan.
b. Sumber pencarian penduduk desa itu, bertani dan berternak, sudah lumayan.

E. DAFTAR CONTOH DASAR VERBA DAN VERBA
1. Dasar terikat
acu dadak
ajar duyun
benam gores
2. Verba asal
ada lalu
bangkit masuk
gugur lulus
3. Verba turunan
berdasarkan mempertanyakan
dibebani terpenuhi
dibebaskan terlupakan

III. PENUTUP
Verba majemuk adalah verba yang terbentuk melalui proses penggabungan satu kata dengan kata yang lain. Dalam verba majemuk, penjejeran dua kata atau lebih itu menumbuhkan makna yang secara langsung masih bisa ditelusuri dari makna masing-masing kata yang tergabung
.

05.45 Share:
About SMAN 1 ULTRA

DAHLIA ANDIKA -

1 komentar:

Get updates in your email box
Complete the form below, and we'll send you the best coupons.

Deliver via FeedBurner
Proudly Powered by SMAN ULTRA.
back to top